Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 4

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 4

 Piool.com - Ketika aku mencoba membuka mata, tiba-tiba wajahnya menutupi wajahku dan sebuah sentuhan mengenai bibirku, membuatku kembali memejam. Sentuhan itu kemudian menjadi sebuah lumatan. Dan lumatan itu menjadi sebuah ciuman yang mengantarku pada hasrat birahi yang menuntut untuk dipenuhi. Apalagi ketika kurasakan tangan Om Wi’ sudah menelusup masuk di sela karet celana dalamku. Dan mulai meremas-remas di sana.


Aku pun terpengaruh oleh ulahnya. Kujulurkan tanganku untuk melepas simpul sarungnya. Dan ketika tanganku merogoh ke dalam, dapat kurasakan bahwa Omku tidak memakai apa-apa lagi di balik sarungnya. Maka kuremas semua yang dapat kuremas. Kupilin-pilin layaknya mainan yang terbuat dari karet.
Tangan Om Wi’ lalu mencoba merebahkan tubuhku dari pelukannya. Kemudian dengan tanpa meminta ijinku lagi, ditariknya celana dalamku ke bawah. Dan mulutnya langsung menyergap. Membuatku terhenyak karena tidak siap dengan serangannya itu. Sesaat kemudian aku hanya dapat merintih dan memegangi kepalanya yang tenggelam di bawah perutku. Tangan Om Wi’ dengan sengaja mencengkeram kuat pangkal kemaluanku, sehingga membuat batang dan kepala penisku makin mengeras, dan menyebabkan bagian itu makin sensitif ketika dihisap.
Malam ini aku pasrah. Aku pasrah dengan apa yang akan dilakukan Om Wi’ padaku. Beberapa penggalan ceritanya tadi siang mulai berloncatan kembali dalam ingatanku. Mulai dari pengalaman oral hingga anal seks. Akankah ia memberiku pengalaman itu malam ini?
Pertanyaanku terputus oleh sebuah benda lembut dan basah yang tiba-tiba menyerang tulang periniumku, bagian padat yang ada di bawah kantong pelir. Benda basah itu lalu meluncur dan menjilat-jilat ke bawah dan berakhir di celah bawah tubuhku. Rasa geli langsung menjalar ke seluruh syarafku. Membuat tubuhku melenting dan menimbulkan teriakan yang tidak dapat lagi kutahan. Air mataku sampai keluar merasakan kenikmatan yang tidak terperi ini. Oohh..!
Tangan Om Wi’ berusaha menggapai ke atas untuk menutup mulutku agar tidak berteriak. Tapi aku malah melahap tangan itu dan kuhisap jari-jarinya dengan penuh nafsu. Dalam bayanganku aku terasa menghisap punya Om Wijoyo. Dan inilah yang kemudian memberiku inspirasi untuk berbuat lebih jauh padanya.
Kudorong kepala Om Wi’ untuk menyudahi kegiatannya di bawah dan kemudian ia berguling lalu telentang di sampingku. Entah sejak kapan sarungnya mulai terlepas. Yang kutahu kini di hadapanku tubuhnya sudah telanjang total. Dan segera kugenggam batang kemaluannya yang tegang membesar itu. Benar-benar besar. Tanganku terasa penuh menggenggamnya. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi mulutku mulai melahap.
Inilah oral seks pertamaku! Not bad! Dan kini aku bagai seorang keponakan yang tengah menikmati es lilin yang diberikan oleh Omnya. Sekujur benda bulat panjang itu tidak sesenti pun luput dari hisapan dan lumatanku. Beberapa otot kulihat menyembul dan melingkar pada batang kemaluan itu. Membuatnya terlihat kokoh dan, tiba-tiba dalam satu gerakan cepat, Om Wi’ memutar tubuhnya dan ah..! Ia mengarahkanku untuk bermain dalam posisi yang selama ini hanya dapat kunikmati dalam film porno, sixty nine! Sebuah posisi yang sangat sensual dalam permainan seks. Dan kini, malam ini aku menjalani permainan itu di bawah bimbingan Omku.



Dalam posisi merangkak, aku dapat dengan leluasa menikmati batang kemaluan Om Wi’. Bagian kepalanya yang membulat licin tampak semakin mengkilap oleh ludah dan air liurku yang entah sudah berapa kali terjilat ke sana. Lubang kecil di ujungnya merembes air bening, precum yang terasa asin dan agak lengket. Jumlahnya cukup banyak untuk ukuran precum. Barangkali ia sedang di puncak nafsunya. Atau barangkali karena kuatnya rangsangan mulut yang kuberikan. Lanjut baca!

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 3

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 3

 Tradingan.com - Konsentrasiku buyar ketika kurasakan tangan Om Wi’ meremas milikku dengan sabun. Aku kegelian dan berusaha menghindari tindakannya lebih lanjut. Tapi ia terus mendesak sampai tubuhku merapat di dinding kamar mandi, membuat wajah kami kini saling berhadapan, dekat sekali. Ia menatapku dengan pandangan dan senyum yang sulit kuartikan. Sementara tangannya di bawah sana terus meremas-remas. Aku diam saja menunggu apa maunya. Nafas kami telah beradu. Dan sesaat kemudian, entah siapa yang mulai, bibir kami bertemu.


Sejauh ini Om Wi’ memang biasa mencium kami, entah di kening atau pipi. Tapi kali ini, ia mencium bibirku. Dan ini bukan ciuman kasih sayang. Aku lebih merasakannya sebagai ciuman birahi, penuh nafsu. Lidahnya menjulur dan bermain-main dalam mulutku. Dan anehnya, aku merespon semua itu. Maka akhirnya kami pun tenggelam dalam ciuman yang makin lama membuat birahiku bangkit kembali. Inilah yang membuatku tidak dapat menolak, ketika Om-ku yang ganteng itu pelan-pelan merayap ke bawah dan melahap penisku yang sudah tegang membesar.
Oh, inikah yang disebut oral seks itu? Ada sensasi yang sulit untuk kugambarkan. Hisapan dan gerakan lidah Om Wijoyo di bawah sana menciptakan rasa nikmat yang belum pernah kurasakan. Aku tidak sempat berpikir lagi dari mana dan mengapa Om Wi’ dapat melakukan perbuatan itu. Dan aku makin tidak mampu berpikir lagi ketika tiba-tiba tangan kanannya merayap ke belakang, ke bongkahan pantatku dan meremasnya. Lalu pelan-pelan tangan itu menelusuri garis tengah pantatku dan salah satu jarinya mulai menelusup ke celahnya. Semula aku sempat tersentak kaget. Tetapi sebuah kenikmatan yang aneh tiba-tiba menyebar di bagian bawah tubuhku dan tanpa sadar aku melenguh keenakan. Bahkan tanpa kusadari, kedua pahaku pelan-pelan meregang seiring dengan rangsangan tangan Om Wijoyo di celah belakang tubuhku.
“Oommhh.. Omm..!” rintihanku bergema di dinding kamar mandi.
Aku tidak perduli lagi seandainya suaraku sampai terdengar orang lain. Om Wijoyo pun tampaknya juga tidak perduli dengan rintihanku itu. Ia masih terus mengelamuti batang kemaluanku seperti orang kehausan tengah menikmati es lilin. Sementara di sisi lain jari-jari tangannya makin nakal menelusuri lubang kecil di celah pantatku.
Entah sudah berapa menit aku bersandar sambil menggeliat-geliat di dinding kamar mandi karena ulah Om Wi’. Dan ketika aku merasakan sebentar lagi mau mencapai puncak, tiba-tiba ia menghentikan semuanya dan kembali berdiri menghadapku. Kulihat kumisnya berlepotan air liurnya sendiri. Matanya sayu dan nafasnya agak ngos-ngosan. 




Batang kemaluannya tampak mengacung tegak di depan milikku yang meradang butuh penuntasan. Lucu rasanya membandingkan kedua benda bulat panjang itu. Entah punya siapa yang lebih besar, sulit membandingkannya karena bentuknya yang berbeda. Bagian kepala kemaluanku berukuran lebih besar, sedangkan milik Om Wi’ batangnya lah yang terlihat lebih padat. Rambut kemaluannya juga tampak lebih lebat dibandingkan punyaku.
“Hend..,” suaranya tiba-tiba berubah tegas. “Kamu harus bisa jaga rahasia ini.”
“Kok, Om nanya begitu?” aku agak tersinggung dengan ucapannya.
“Karena Om yang mulai ini semua. Dan Om telah..” ia tak melanjutkan, tetapi memberi isyarat bahwa ia baru saja melakukan oral seks padaku.
“Kok nggak diterusin?” sahutku agak nakal. Lanjut baca!

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 2

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 2

 Topoin.com - “Om..,” kupanggil namanya karena tiba-tiba suasana menjadi sepi.

Yang kupanggil diam saja. Mungkin ia sudah tertidur lagi. Tapi tiba-tiba kurasakan wajahnya ditenggelamkan di bagian belakang kepalaku dan menciumi rambutku. Ada suara isakan lirih. Om Wi’ rupanya menangis.
“Kenapa Om?” kataku sambil membalikkan badanku menghadapnya.
Kulihat mata Om Wi’ sudah basah. Nampak sekali ia sedang sedih. Ia menangis, tapi tanpa suara. Tangis laki-laki. Dan aku menjadi trenyuh melihatnya.
“Kenapa sih, Om?” aku bertanya lagi. “Tadi barusan ngomongin masalah ereksi kok tiba-tiba jadi sedih begini,” lanjutku dengan nada guyon untuk menetralisir suasana.

Yang kuajak bercanda hanya tersenyum. Dan matanya yang basah lalu diusapnya sendiri.
“Hendro pasti tahu, kenapa Om sedih,” kalimatnya masih agak terbata. “Om sekarang merasa makin sendiri saja. Selama ini Om selalu mencurahkan semua kasih sayang untuk Dede dan adiknya. Segalanya. Tapi Om sadar, nggak mungkin bisa memiliki mereka selamanya. Mereka sudah gede, sudah mandiri dan sebentar lagi pasti mereka pada berkeluarga.”
Aku diam saja mendengar penuturannya yang kelihatan sekali sangat emosional. Aku jadi punya pikiran, jangan-jangan Om Wi’ datang ke sini memang untuk menghindari kesepian atau ingin mencari ‘tempat’ untuk berbagi rasa. Karena ia memang dekat sekali dengan keluarga kami dibandingkan dengan keluarga Ayah yang lain.
“Makanya, Om main ke sini. Biar Om bisa sedikit mengurangi rasa sepi,” lanjutnya seolah-olah menjawab apa yang sedang kupikirkan.
Akhirnya Om Wi’ bercerita bahwa sejak kematian istrinya, semua kasih sayang ia curahkan ke keluarganya yang tersisa. Padahal kalau mau, Om Wi’ punya banyak kesempatan untuk nikah lagi. Apalagi ia orangnya baik, kaya dan ganteng. Tapi mungkin ia belum bisa melupakan kematian istrinya.
Meskipun Om Wijoyo dapat mencurahkan semua kasih dan sayangnya pada keluarganya, namun menurutnya ada satu hal yang tidak mungkin ia curahkan, masalah pribadi, masalah seks. Bahkan untuk membicarakannya saja rasanya tidak mungkin, meskipun mereka sudah dewasa.
“Tapi kalau sama kamu, mungkin Om malah bisa lebih bebas bicara masalah itu,” katanya dengan emosi sudah mulai terkendali lagi.
Aku hanya dapat tersenyum saja mendengar penuturannya. Karena tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sendiri juga merasa tidak bebas bicara masalah seks dengan keluargaku.
“Hendro sudah punya pacar kan?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Emang kenapa Om?”
“Seumur gini kamu sudah pantas kawin.”
“Kawin apa nikah?”
“Hush..!” Om Wi’ terbahak mendengar ucapanku. “Ah, kamu pasti sudah pernah..,” kata Om Wi’ lebih lanjut dengan nada tertentu.
Aku segera menggeleng untuk meyakinkan dia. Dan rupanya ia memang hanya mau menggodaku saja.
Tiba-tiba Om Wi’ menanyakan apakah punyaku masih ‘bangun’. Kini gantian aku yang ketawa. Karena punyaku sudah ‘reda’ dari tadi. Spontan aku melirik ke arah depan celana pendek Om Wi’. Dan ternyata ia masih tegang!




“Maklum, Om kan nggak pernah bisa bicara seperti ini. Jadi langsung terpengaruh,” ujarnya seolah minta permaklumanku kenapa punyanya masih ‘berdiri’.
“Atau, mungkin sudah lama nggak,” godaku.
“Sok tahu! Kayak yang pernah ngerasain saja.” sahutnya dengan nada kocak.
“Mendingan sekalian belum pernah, Om. Daripada sudah pernah terus tiba-tiba berhenti, katanya akan,” kalimatku terpotong, karena aku merasa sedikit keceplosan.
Dan memang, kulihat Om Wi’ diam menunduk begitu mendengar omonganku barusan.
“Maaf Om, saya.”
“Nggak pa-pa! Memang begitulah kenyataannya.”
Beberapa saat kemudian kulihat Om Wi’ malah tersenyum, dan bertanya, “Mau bantuin Om nggak?” Lanjut baca!

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 1

Viral Ngentot Lobang Anal Tamu Yoga 1

 Biodataviral.com - “Jangan lupa, Pakdemu nanti dijemput..!” pagi-pagi Ayah sudah mengingatkan aku untuk menjemput Pakde Wijoyo di bandara.

Sebenarnya aku rada malas, karena hari ini aku ada rencana mau cari baju buat wawancara minggu depan. Tapi di rumah memang hanya ada aku dan Ayah saja. Ibu dan adikku sedang ke Bandung. Sementara si bungsu lagi ada acara opspek di kampusnya. Jadi aku lah yang ‘ketiban’ tugas sebagai penjemput Pakde.

Pakde Wijoyo (kami biasa memanggilnya Om Wi’) adalah adik Ayah tapi lain Ibu. Sebenarnya usianya jauh lebih muda dari Ayah. Tapi karena Om Wi’ lahir dari istri tua Kakek, kami memanggilnya Pakde. Terakhir aku ketemu dia waktu acara keluarga beberapa bulan yang lalu. Waktu itu Om Wi’ datang bersama anak-anaknya. Ia memang sangat dekat dengan anak-anaknya sejak istrinya meninggal karena sakit enam tahun yang lalu.
Ada sekitar setengah jam aku menunggu pesawat datang dari Yogya. Wajah Om Wi’ akhirnya muncul juga di pintu keluar. Raut wajah dan kumisnya yang khas membuatku gampang mengenalinya. Aku langsung melambai begitu melihat ia agak kebingungan. Senyumnya langsung mengembang. Seperti biasanya, senyumnya ramah dan menyegarkan. Sekilas Om Wijoyo terlihat agak gemukan dibandingkan ketika aku terakhir ketemu dia. Aku langsung salaman dan mencium tangannya. Seperti biasanya, ia langsung memeluk dan mencium keningku. Kebiasaannya setiap kali bertemu dengan keponakan-keponakannya.
“Sini Om..,” kataku seraya menggamit travel bag miliknya.
“Bagaimana kabar semuanya?” suara baritonnya mulai terdengar.
“Baik!” sahutku singkat. “Om dan keluarga baik-baik juga kan?”
“O ya dong! Kami semua sehat wal’afiat,” ujarnya dengan nada bersemangat, diiringi derai tawa renyahnya.
Om Wijoyo lalu mengajakku istirahat sebentar di cafe yang ada di bandara. Kami minum sambil ngobrol berbagai hal.
“Gimana kerjaanmu?” tanya Om Wi’ sambil menyeruput kopinya.
“Mau pindah lagi Om,” sahutku. “Habis nggak betah kerja kayak gitu.”
“Emang kerja kayak apa?”
Aku lalu cerita tentang pekerjaanku di sebuah perusahaan jasa marketing yang kunilai kurang menantang. Sekalian aku cerita tentang rencanaku seminggu lagi untuk wawancara di calon perusahaan yang baru.
“Malam minggu ini Hendro ada acara nggak?” tanyanya ketika kami menuju ke tempat parkir.
“Mau cari baju, Om. Buat wawancara itu.”
Kami akhirnya pulang agak memutar jalan. Karena Om Wi’ mengusulkan agar aku cari baju sekarang saja. Dan ia bersedia menemaniku ke mall dekat bandara.
“Sudah. Yang itu saja,” kata Om Wi’ sambil menunjuk baju putih yang ada di tangan kiriku.
Aku lalu memanggil pramuniaganya dan minta nomor baju sesuai ukuranku, lalu segera ke kamar pas. Tidak lama kemudian Om Wi’ ikut masuk ke kamar pas yang hanya berpenutup tirai itu.
“Kirain udah dicoba,” katanya.
“Baru nyopot kaos..,” sahutku sambil mulai mengepas baju dan mulai mematut-matut di depan cermin.
“Tuh, bagus kan?” katanya seolah-olah ingin menegaskan bahwa itu baju pilihannya, sambil tangannya menepuk dan mengusap-usap bahuku dari belakang.



“Oke deh!” kataku mantap untuk memilih baju itu dan mulai mencopoti kancingnya.
“Badan kamu kekar juga ya, Hend,” kata Om Wi’ setengah bergumam sambil memegang bagian atas kedua lenganku, “Sering fitnes ya?” kali ini tangannya memegangi pinggangku.
“Boro-boro fitnes. Jalan kaki saja jarang,” ujarku sambil mulai mengenakan kaosku.
Sepanjang perjalanan ke rumah, Om Wi’ terus saja ngomong tentang perlunya menjaga tubuh. Dia memang dari dulu cukup concern dengan yang namanya olahraga dan kesehatan. Menurut cerita Ayah, sejak remaja Om Wijoyo selalu aktif di kegiatan olahraga. Baik di kampung atau di sekolah. Aku sih percaya saja. Apalagi kalau menilik postur Om Wi’ yang memang terlihat masih tegap untuk orang seumur dia yang sudah berkepala empat.
Kami tiba di rumah menjelang sore. Rupanya Ayah sedang ada keperluan keluar, sehingga hanya tinggal Pak Hasan, tukang kebun, yang menjaga rumah. Untuk sementara barang bawaan Om Wi’ kutaruh di kamarku dulu, sambil menunggu Ayah pulang. Lanjut baca!

Cerita Ngentot Anal Hadiah Perpisahan 3

Cerita Ngentot Anal Hadiah Perpisahan 3

 Tradingan.com - Ini sudah terlalu lama, Aku sudah menunggu terlalu lama. Aku harus memperkosa dia lagi, Aku harus menikmati lagi tubuh Lola Amelia yang sedang jadi mainan kita. Aku jambak lagi rambut Lola, di pangkalnya dan menariknya dengan kasar dari pegangan Toni, air liur Lola dan sperma Toni mengalir keluar dari mulutnya ketika kuseret dia sekitar dua meter dari Toni dan melemparkannya hingga jatuh tertelungkup. Aku berlutut di belakang dia, dan meraih pinggul Lola yang bulat, dan menarik pantatnya yang biru-biru hingga menungging, penisku bergoyang-goyang di depanku sementara aku menggeram bagai binatang, mengarah ke vagina Lola yang terluka.


Aku masuk lagi dengan brutal, berharap aku kembali menyakiti Lola, berharap dia menjerit kesakitan, tapi yang aku dengar hanya suara mengerang ketika penisku masuk ke rahim Lola. Aku bergoyang keluar masuk sebanyak tiga kali, vagina Lola masih sangat sempit dan nikmat, Aku hampir saja diam tak bergerak di situ. Tapi pantat Lola, dengan liang anus berkerut berwarna kecoklatan terlihat seperti menggodaku, jari-jariku membuka belahan pantat Lola yang memanggil-manggilku. Aku meringis ketika kutarik penisku dari jepitan vagina Lola dan mengarahkannya ke liang anus Lola.

Reaksi Lola benar-benar menggairahkan. Rintihan dan ratapan keluar lagi dari bibir Lola.
“Jangan, jangan, saya mohon, jangan..!” Lola merintih dan meronta sekarang lebih kuat dari pada yang kuduga sebelumnya, lututnya terangkat dari lantai, otot-otot di pantatnya mengejang berusaha menutup, pinggulnya bergoyang berusaha melepaskan diri dari peganganku. Tapi aku tidak peduli, tidak ada yang bisa menghalangiku buat menikmati pantat Lola. Dan kupegangi dia, di pinggulnya, penisku yang sudah dibasahi oleh vagina Lola, menekan ke liang anus Lola, tubuh Lola menggeliat dan meronta dalam peganganku sembari memohon agar aku berhenti, dan melakukan apa saja, apa saja selain sodomi.

Aku menekan lebih keras lagi, jari-jariku membuat memar baru di pinggul Lola, ketika Aku merasa liang anus Lola mulai terbuka, jeritan pelan mulai terdengar dari mulut Lola, keluar dari dada Lola, dada dengan payudara yang bulat yang sekarang tertindih tubuh Lola di lantai yang terus berusaha merangkak menjauh dariku. Setelah itu yang kudengar hanya jeritan Lola yang melengking hingga akhirnya terputus sendiri ketika kepala penisku berhasil menembus masuk anus Lola, membuatku gemetar karena sensasi yang timbul. Sempit, sempit sekali sampai membuat nyeri, semakin nyeri ketika kupaksa penisku masuk lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi, jeritan Lola berubah menjadi lolongan ketika telapak tangan Lola mengepal menahan sakit, dahinya terbenam ke karpet ketika lolongan Lola berubah lagi menjadi tangisan kekalahan dan kesakitan bersamaan dengan masuknya sisa penisku ke anus Lola yang terus menjepit dan memijati batang penisku.

Kutarik lagi penisku keluar, menikmati gerakan tubuh Lola yang kesakitan, dan kemudian mendorongnya masuk lagi sekeras-kerasnya ke dalam anus yang sempit luar biasa itu. Aku tidak punya pikiran lain selain menyodominya, dan terus menyodominya, menyodomi dubur Lola dengan brutal, sekuat tenaga, dan menikmati setiap rasa sakit yang dirasakan oleh Lola, rasa teror yang dialami Lola, kekalahannya. Aku sadar ketika gerakanku di anus Lola mulai lancar, Johan berlutut di depan Lola, dan aku melihat penisku kembali berlumuran darah ketika aku menarik penisku keluar untuk yang kesekian sebelum mendorongnya masuk lagi. Johan ada di depan Lola, menarik rambutnya dan memegang kepala Lola dengan kepalanya, menarik rahang Lola, memaksanya membuka mulut, dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Lola dan memperkosanya sebrutal aku yang ada di anusnya. Wajib baca!


Cerita Ngewe Anal Hadiah Perpisahan 2

Cerita Ngewe Anal Hadiah Perpisahan 2

 Tradingan.com - Tangan Toni mengusap belakang kepala Lola, dan Aku melihat tubuh Lola kembali gemetar ketika Toni melangkah ke belakang menjauhi Lola, mata Toni melahap habis buah dada Lola, dua buah bukit daging bulat mengacung dari dada Lola, bergantung lepas dan tampak besar bila dibandingkan dengan tubuh Lola yang ramping, puting susunya yang berwarna merah muda tampak mengeras karena kedinginan dan gesekan dengan pakaian Toni tadi. Toni kembali menarik tubuh Lola, dan meredam tangisan Lola ketika ia melumat bibir Lola dengan bibirnya, menarik kepala Lola hingga mendongak dan menciumi bibir Lola serta menjulurkan lidahnya dalam mulut Lola yang hangat.


Sesuatu telah membuat Lola tersadar, karena tiba-tiba ia mendorong tubuh Toni menjauh sekuat tenaga, sambil menjerit.
“Tidak! Tidak! Bajingan!” Lola mundur menjauhi Toni seperti binatang yang terluka, tangannya menutupi buah dadanya. Lola memandang ke arahku, rambutnya menutupi sebagian wajahnya, wajahnya bersimbah air mata, dan matanya, matanya yang indah itu memancarkan teror dan putus asa, ia kemudian mendekati Johan, matanya memohon dan suaranya histeris meratap pada Johan.
“Toloongg.., saya.., ahh, hentikan ini semua.” Lola seharusnya sudah menyadari dari tadi. Raut muka Johan sekarang berubah, dan ia tersenyum pada Lola, dan aku kembali melihat teror kembali timbul di sekujur tubuh Lola ketika ia menyadari bahwa sekarang ia sudah terjebak dan setiap ia memandang mata setiap orang di ruangan itu yang ia lihat hanya nafsu dan kesadisan.

Ia berusaha lari keluar, menghindar dari Toni yang tidak bergerak sedikitpun untuk menghalanginya, tapi aku yang bergerak, kutabrak dia dengan bahuku hingga Lola terjengkang dan terbanting ke lantai. Dan langsung saja kita bertiga menyerbu ke arahnya. Aku ingin memperkosa dia, Aku ingin membuatnya sakit dengan penisku dan mendenger jeritnya waktu kuperkosa dia. Aku sudah seluruhnya dikuasai nafsu birahi ketika aku menarik sepatunya, kemudian merobek stocking dan roknya sementara Johan dan Toni memegangi tubuh Lola yang meronta dan mengejang, jeritan Lola berbaur dengan nafsuku menambah semangatku menelanjanginya.

“Pegangi dia”,. Aku mendengar Toni berkata, dan aku langsung memegangi kakinya yang berusaha menendangku. Setelah memegangi kedua kaki Lola aku baru bisa menikmati tubuh Lola yang telah telanjang bulat dengan leluasa, tubuh yang terbaring tak berdaya antara aku dan Johan yang memegangi tangannya di atas kepala Lola. My God, dia benar-benar punya badan yang indah, buah dada Lola bergoyang kian kemari ketika Lola meronra-ronta, penuh, bulat dan kenyal, perutnya benar-benar rata dan kelihatan kuat karena aku melihat otot-otot yang mengejang ketika ia meronta. Dan gila, pahanya, pahanya putih bersih dan halus mulus, di pangkalnya kulihat rambut kemaluan halus hitam menutupi gundukan vaginanya. Aku benar-benar tidak sabar buat masuk ke gundukan itu, penisku seakan-akan akan meledak ketika aku terus memeganginya dan melihat Toni berdiri di samping tubuh Lola, dengan ikat pinggang di tangan, matanya berkilat liar dan nafasnya mendengus-dengus.

“Pukul dia Ton!”, Johan berkata dan aku juga melihat pancaran birahi dan sadis dari matanya ketika ia memandang Lola.
“Jangaann!” Lola menjerit sementara matanya mendelik ketakutan ketika ia melihat ikat pinggang itu mengayun ke perutnya, suara ikat pinggang kulit yang beradu dengan perut Lola sekeras jeritan Lola yang melolong. Ia mengejang di tanganku, sambil terus kupegangi, Lola meronta kesakitan ketika Toni mengayunkan lagi ikat pinggangnya terarah ke buah dadanya, membuat gundukan itu bergoyang-goyang liar sementara Lola terus menjerit dan mulai menangis lagi. Wajib baca!


Cerita Ngewe Anal Hadiah Perpisahan 1

Cerita Ngewe Anal Hadiah Perpisahan 1

 Tradingan.com - Sepuluh milyar, pikirku. Butuh waktu lima tahun, lima tahun tambah dua orang partner dan banyak tipu daya, tapi paling tidak itu berhasil, dan sekarang sudah waktunya kita kabur dari sini. Aku sudah memikirkan ini sejak pertama kali. Kita bertiga bakal ketemu di kantor waktu liburan, jadi tidak ada karyawan lain yang bakalan melihat kita di sini. Dan dari kantor kita ke bandara, dan bertiga langsung terbang ke pulau tempat wanita-wanita cantik kumpul di sana dan dimana pejabat pemerintah lebih bisa di beli dari pada di sini, dan tidak ada perjanjian ekstradisi. Aku melihat jam tanganku, sudah jam 6 sore, masih ada waktu lima jam lagi sebelum kita berangkat ke bandara. Aku tersenyum waktu aku melihat papan nama di mejaku yang besar: Roy Pangestu, Wakil Presiden Direktur.


Sebuah ketukan di pintu kantorku membuat diriku tersadar dari lamunanku. Aku kaget sekali. Seharusnya tidak ada seorangpun di kantor ini, Johan dan Toni mustinya masih ada di bagian akunting membersihkan bukti-bukti supaya pelarian kita ini tidak cepat ketahuan. Aku berdiri dan mendekati pintu.
“Silakan masuk.”

Pintu terbuka, dan seorang gadis muda seperti yang sering ada di cover majalah-majalah masuk ke kantorku, ragu-ragu. Dia benar-benar menakjubkan, berdiri tinggi langsing di atas sepatunya yang tinggi. Sepatunya hitam berkilat dengan hak yang tinggi, menutupi telapak kakinya yang pastinya halus dan indah kalau melihat tungkainya yang terlihat sempurna ditutupi stocking hitam, dan sebuah rok ketat menutupi sebagian pahanya yang tampak mulus. Sebuah blus putih dan rompi hitam tidak bisa menutupi perutnya yang rata, pinggangnya yang ramping dan buah dadanya yang bulat mengacung dari balik blusnya. Leher gadis itu putih bersih, menunjang sebuah wajah yang benar-benar ayu dengan bibir yang sensual. Rambut gadis itu ikal hingga ke punggung, jatuh lembut di sisi kepalanya, mempercantik mata gadis itu yang bulat dan tampak makin bercahaya di bawah sinar lampu kantorku.

“Selamat sore Pak, maaf”, katanya ragu-ragu”, Tapi saya mencari Pak Santoso. Saya sedang kerja praktek di sini dan saya mengira beliau masuk hari ini.”
Aku tampilkan senyumku yang paling oke sambil membalas tatapan matanya.
“Tadi Pak Santoso memang masuk kantor. Tapi beliau sudah pulang lebih awal tadi siang. Silakan duduk dulu.”
Aku menunjuk ke sofa kulit coklat dan mempersilakan dia duduk.
“Mungkin saya bisa bantu Nona?”.

Gadis itu bergerak mendekati sofa itu dan aku mendekati pintu lalu menutupnya, sambil terus tersenyum, pikiranku sudah penuh dengan nafsu. Aku sudah siap lari dari negeri ini, pikiranku sebelumnya cuma dipenuhi bagaimana nanti setelah enam jam, Aku akan bebas dengan duit sebanyak sepuluh milyar, tiba-tiba gadis ini masuk ke kantorku, gadis yang benar-benar hot.

Gadis itu lalu duduk di sofa, menutup kedua kakinya sambil menarik roknya yang terangkat sedikit membuatku bisa melihat pahanya. Dia lalu mengeluarkan sebuah notes dan bolpen dari kantong dalam jaketnya dan memperhatikan padaku yang duduk di sudut meja kecil yang ada di seberangnya.


“Maaf, Bapak..” matanya bertanya-tanya.
“Pangestu, nama saya Roy Pangestu.” Jawabku sambil tersenyum lagi, pikiranku sudah tidak bisa kemana-mana lagi selain melihat ke bibirnya yang sensual, lidahnya yang merah muda yang terlihat menjilat bibirnya setiap kali ia akan bicara. Aku bisa merasakan dadaku berdetak keras sekali ketika aku memperhatikan dia, berdetak makin keras, sementara pikiranku makin gelap, dan aku tahu apa yang akan terjadi, Aku juga sadar aku sudah bisa menguasai nafsuku lagi, lagipula aku tidak bermaksud menahan nafsuku ini.

“Begini Pak Roy, saya bekerja praktek dengan Pak Santoso sebagai income audit di perusahaan ini. Saya bekerja sebagai tugas akhir di akademi saya.”
“Nona dari akademi mana?” kataku, lalu menggelengkan kepalanya”, Maaf, tapi saya belum tahu nama Nona.” Wajib baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik